Sunday, February 27, 2011

Engkau ingin berjuang

Jumaat.

Usai kelas Toxicology, kelas yang sangat-sangat seronok, saya tergesa-gesa mengemas barang.Perjanjian asal telah dirombak. Hampir pukul 1 kami selamat meninggalkan perkarangan UIA yang dicintai:)

Hampir jam 3.30 petang. Alhamdulillah selamat sampai di Tol Gombak. Wah, lajunya Awatif bawa kereta. Terima kasih Awatif tumpangkan ke Gombak. Tanpa saya sedari, sudah pun berada di Gombak, seperti tidak percaya. Maklumlah di akhir-akhir perjalanan seronok merehatkan mata. Huhu.

Hawa, adik yang kedua seakan tidak percaya dengan kemunculannya kakaknya di UIA Gombak. Huhu.Maklumlah, pagi tersebut baru dia menghantar mesej supaya perjalanan semuanya selamat dan tidak merancang pula untuk singgah di UIA.

Alhamdulillah, semuanya dalam aturan Ilahi. Dapat juga melepas rindu dan berkongsi rasa dan pengalaman bersamanya. Banyak yang kami bincangkan, walaupun pada petang itu dia akan pulang ke rumah untuk meraikan hari perkahwinan sepupu keesokan harinya. Hasil diskusi yang hampir sejam membawa saya kepada satu perkongsian buat sahabat-sahabat seperjuangan yang datang bertandang di sini. Usai Asar, terus bergerak menuju ke suatu tempat bersama seorang junior dan senior.

Lagu dari Qatrunnada, "Engkau Ingin Berjuang". Terima kasih Hawa atas perkongsian! Hayati liriknya. Semoga kita benar-benar adalah pejuang Islam. Perjanjian di alam roh itu adalah permulaan bagi segalanya. Perkongsian seterusnya akan menyusul insyaAllah. Hujung minggu yang sangat manis, bertemu dengan 3 generasi dakwah, 2 hari 1 malam. Cukup memberi erti. Terima Kasih Allah, Engkau terus memberi dan memberi, kini masih lagi bernafas. Bertemu dan berpisah kerana-Mu, demi redha-Mu. Moga segalanya bukan sekadar retorik!


Engkau ingin berjuang , tapi tidak mampu menerima ujian,
Engkau ingin berjuang, tapi rosak oleh pujian,
Engkau ingin berjuang, tapi tidak sepenuhnya menerima pimpinan.

Engkau ingin berjuang, tapi tidak begitu setia kawan,
Engkau ingin berjuang, tapi tidak sanggup berkorban,
Engkau ingin berjuang, tapi ingin jadi pemimpin,
Engkau ingin berjuang, menjadi pengikut agak segan.

Engkau ingin berjuang, tolak ansur tidak engkau amalkan,
Engkau ingin berjuang, tapi tidak sanggup terima cabaran,
Engkau ingin berjuang, kesihatan dan kerehatan tidak sanggup engkau korbankan.

Engkau ingin berjuang, masa tidak sanggup engkau luangkan,
Engkau ingin berjuang, kerenah isteri tidak kau tahan,
Engkau ingin berjuang, rumah tangga lintang pukang,
Engkau ingin berjuang, diri engkau tidak engkau tingkatkan.

Engkau ingin berjuang, disiplin diri engkau abaikan,
Engkau ingin berjuang, janji kurang engkau tunaikan,
Engkau ingin berjuang, kasih sayang engkau cuaikan,
Engkau ingin berjuang, tetamu engkau abaikan.

Engkau ingin berjuang, anak isteri engkau lupakan,
Engkau ingin berjuang, ilmu berjuang engkau tinggalkan,
Engkau ingin berjuang, kekasaran dan kekerasan engkau amalkan.

Engkau ingin berjuang, rasa bertuhan engkau abaikan,
Engkau ingin berjuang, iman dan taqwa engkau lupakan,
Yang sebenarnya, apa yang engkau hendak perjuangkan?



Sunday, February 20, 2011

Sunday, February 6, 2011

Percakapannya adalah Al-Quran






Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta’ala:

Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al-Haram, lalu berziarah ke makam Rasulullah saw. Ketika saya berada disuatu sudut jalan, tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh berpakaian hitam yang dibuat dari bulu. Ia adalah seorang ibu yang sudah tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa minit.

Dalam dialog tersebut wanita tua itu, setiap kali menjawab pertanyaan Abdulah bin Mubarak, dijawab dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Walaupun jawapannya tidak tepat sekali, akan tetapi cukup memuaskan, karena tidak terlepas dari konteks pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Abdullah: “Assalamu’alaikum warahmatu Allahiwabarakaatuh.”

Wanita tua: Ucapan salam sejahtera dari Tuhan Yang Maha Mengasihani. (Yaa Siin 56)

Abdullah: Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini?”

Wanita tua: Barang siapa disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya. (Al-A’raaf 186)

Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia tersesat jalan.

Abdullah: “Kemana anda hendak pergi?”

Wanita tua: Maha suci Allah yang telah menjalankan hambanya di waktu malam dari Masjid Al-Haraam (di Makkah) ke Masjid Al-Aqsa (di Palestin). (Al-Israa’ 1)

Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan hendak menuju ke masjidil Aqsa.

Abdullah: “Sudah berapa lama anda berada di sini?”

Wanita tua: Selama tiga malam dalam keadaan sihat. (Maryam 10)

Abdullah: “Apa yang anda makan selama dalam perjalanan?”

Wanita tua: Dialah Allah pemberi aku makan dan minum. (Asy-Syu’araa’ 79)

Abdullah: “Dengan apa anda melakukan wudhu?”

Wanita tua: Bila tiada air maka hendaklah kamu bertayamum dengan tanah, debu yang bersih. (Al Maaidah 6)

Abdulah: “Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya?”

Wanita tua: Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam, maghrib. (Al- Baqarah 187)

Abdullah: “Bukankah diperbolehkan berbuka ketika musafir?”

Wanita tua: Dan berpuasa itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. (Al- Baqarah 184)

Abdullah: “Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya?”

Wanita tua: Tiada satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada Raqib Atid. (Qaaf 18)

Abdullah: “Anda termasuk jenis manusia yang manakah, hingga bersikap seperti itu?”

Wanita tua: Jangan kamu ikuti apa yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dipertanggung jawabkan. (Al-Israa’ 36)

Abdullah: “Saya telah berbuat salah, maafkan saya.”

Wanita tua: Pada hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah telah mengampuni kamu dan Dia lah jua Yang Maha Mengasihani daripada segala yang lain yang mengasihani. (Yusuf 92)

Abdullah: “Bolehkah saya mengangkatmu untuk naik ke atas untaku ini untuk melanjutkan perjalanan, karena anda akan menjumpai kafilah yang di depan.”

Wanita tua: Dan apa jua kebaikan yang kamu kerjakan adalah diketahui oleh Allah. (Al-Baqarah 197)

Lalu wanita tua ini berpaling dari untaku, sambil berkata:

Wanita tua: Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka. (An-Nuur 30)

Maka saya pun memejamkan pandangan saya, sambil mempersilakan ia mengendarai untaku. Tetapi tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena unta itu terlalu tinggi baginya. Wanita itu berucap lagi.

Wanita tua: Apa saja yang menimpa kamu disebabkan perbuatanmu sendiri. (Asy-Syuura 30)

Selesai mengikat unta itu saya pun mempersilahkan wanita tua itu naik.

Wanita tua: Maha Suci Tuhan yang telah memudahkan kenderaan ini untuk kami, sedang kami sebelum itu tidak terdaya menguasainya, Dan sesungguhnya kepada Tuhan kamilah, kami akan kembali. (Az-Zukhruf 13-14)

Saya pun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat kencang. Wanita tua itu berkata lagi.

Wanita tua: Sederhanakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu. (Luqman 19)

Lalu aku jadikan unta itu jalan dengan perlahan, sambil mendendangkan beberapa syair

Wanita tua: Bacalah apa-apa yang mudah dari Al-Qur’an. (Al-Muzzammil 20)

Abdullah: “Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak.”

Wanita tua: Dan tidaklah mengingat Allah itu kecuali orang yang berilmu. (Al- Baqarah 269)

Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya.

Abdullah: “Apakah anda mempunyai suami?”


Wanita tua: Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan menyusahkanmu. (Al Maaidah 101)

Maka aku senyap seketika sehingga berjumpa dengan kafilah di depan kami.

Abdullah: “Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?”

Wanita tua: Adapun harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia. (Al-Kahf 46)

Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai anak.

Abdullah: “Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini?”

Wanita tua: Dengan tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk. (Al-Nahl 16)

Dari jawaban ini dapat saya fahami bahwa mereka datang mengerjakan ibadah haji mengikuti beberapa petunjuk. Kemudian bersama wanita tua ini saya menuju perkemahan.

Abdullah: “Adakah kamu kenal orang yang berada dalam kemah ini?”

Wanita tua: Kami jadikan ibrahim itu sebagai yang nabi yang dikasihi. (An-Nisaa’ 125)
Dan Allah berkata-kata kepada Musa. (An-Nisaa’ 164)
Wahai Yahya pelajarilah kitab itu bersungguh-sungguh. (Maryam 12)

Lalu saya memanggil nama-nama, ya Ibrahim, ya Musa, ya Yahya, maka keluarlah anak-anak muda yang bernama tersebut. Wajah mereka tampan dan ceria, seperti bulan yang baru muncul. Setelah tiga anak ini datang dan duduk dengan tenang maka berkatalah wanita itu.

Wanita tua: Maka suruhlah salah seorang dari kamu pergi ke kota dengan membawa wang perak ini, dan carilah makanan yang lebih baik agar ia membawa makanan itu untukmu. (Al-Kahf 19)

Maka salah seorang dari tiga anak ini pergi untuk membeli makanan, lalu menghidangkan di hadapanku, lalu perempuan tua itu berkata:

Wanita tua: Makan dan minumlah kamu dengan sedap, sebab amal-amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang telah lalu.(Al-Haaqqah 24)

Abdullah: “Makanlah kalian semuanya makanan ini. Aku belum akan memakannya sebelum kalian mengatakan padaku siapakah perempuan ini sebenarnya.”

Ketiga anak muda ini secara serempak berkata: “Beliau adalah orang tua kami. Selama empat puluh tahun beliau hanya berbicara menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an, hanya karena bimbang tersalah bicara.”

Lalu Abdullah bin Mubarak berkata Maha suci zat yang maha kuasa terhadap sesuatu yang dikehendakinya dan berkata: Yang demikian ialah limpah kurnia Allah, diberikanNya kepada sesiapa yang dikehendakiNya; dan Allah sememangnya mempunyai limpah kurnia yang besar. (Al-Hadiid 21)

Dipetik dari kitab: KaifaTahfazul Quran ( DR Mustafa Murad )

Kredit kepada Saudara Norezham

Alhamdulillah, sweet momento


Usai solat Maghrib berjemaah malam tadi, kami sekeluarga terus bersiap-siap dan bergerak ke sebuah tempat yang telah siap ditempah oleh mak. Terima kasih mak. Jarang semua punya kesempatan berkumpul dan kali ini khas buat meraikan hari lahir abah, aina, ct dan uwais. Semoga Allah memberkati antum semua. Mak kata tak perlu beli kek nanti kenyang sangat. Dapat berkumpul bersama sudah cukup membuatkan diri rasa terharu dan gembira. Semua sudah pulang ke asrama dan kampus masing-masing. Sayu. Perjuangan harus diteruskan, dah balik ke Kuantan nanti, kekuatan itu akan datang sendiri dengan izin Allah. InsyaAllah. Entri ini khas buat ukthi ku yang tersayang Hawa dan Nur. Juga buat abah, mak dan adik-adik yang baca blog akak. Terima Kasih! Gambar di bawah tidak berapa cantik disebabkan handphone "mahal sangat"...Hehe


"Mak, lamo lak ai makanan ni, ke tak siap lagi..huhu"...

Dzakwan dan aina, makan ingat dunia tak?:)

"Wais, kenapa ekau sikat rambut macam tue, waduh2"...:))

"Ati abang nak atan ni..." (Ct, abang nak makan ni)..Adam is so cute, dia cakap agak pelat, 3 tahun lebih umurnya, semua yang dia cakap akan ada huruf "a" di bahagian depannya...dan dia bahasakan dirinya pada kami "abang"...Dia panggil kakak-kakak dan abang-abangnya dengan panggilan nama, tetapi untuk abang sulung dia panggil along...Dia penghibur kami sekeluarga dengan keletahnya yang memang comel, betul tak mak?:)

Abah baru pergi outstation, sedih memang ada bila abah nak berangkat tadi, insyaAllah ct selalu doakan abah dipanjangkan umur oleh Allah dengan amal kebajikan dan amal ibadat...jumpa lagi ye abah, terima kasih banyak-banyak yang tidak terhingga, tidak terkata dan tidak terbalas, hanya Allah yang mampu membalasnya.. insyaAllah I'll do my very best!



Hawa dan Adam termenung sebentar menanti makanan sampai...

Amboi Adam, apo banyak bonar nasi eh, habis tak tue, ke mak habiskan?hehe...

Nur dan Anas...Muko konyang la tu..Alhamdulillah syukur atas nikmat-Mu...

Apo kono eh jang...Amru curi air Nur..huhu

Friday, February 4, 2011

Esprit de Corps

"Esprit de Corps" ialah satu kumpulan yang dapat bekerja bersama dan akhirnya menghasilkan sesuatu. Lebih kurang begitu maksudnya. A team that can make work together. Lepas Nur pulang dari UTP, dia mengusulkan untuk membuat pizza, maka saya, adik, abah dan mak pergi shopping bahan-bahan untuk buat pizza. Here we go. Terima kasih kepada adik-adikku yang membantu.


Nabilah tekun menyapu talam-talam dengan buttercup. Memandangkan marjerin tiada, buttercup pun ok. Adik-beradik marjerin juga tue..huhu

Wais tidak sabar menanti pizza untuk siap dimakan, dia merupakan seorang pemerhati yang baik:)

Antara bahan-bahan yang diperlukan untuk buat pizza..sangat simple, kalian boleh letak apa sahaja yang kalian suka, tapi bahan-bahan yang digunakan nie dah cukup. Alhamdulillah...Yang pertama bawang besar yang dihiris...

Tomato dan lada benggala yang dipotong dadu

Buttercup atau boleh guna marjerin/planta..disapu di atas permukaan doh sebelum bahan-bahan lain diletakkan di atas doh pizza

Ni paling penting, kalau tidak tak" kaw" pizza tu nanti...huhu...mozzarella cheese..

Oregano, ditabur paling akhir sekali selepas cheese

Nenas siap dipotong dadu, beli yang dah siap dalam tin, senang..

Nur potong sosej bentuk nie, ikutlah nak potong bentuk mana, bentuk bulat-bulat pun ok..

Tomato puree, pun beli yang dah siap dalam tin..huhu, tetapi kemudian dimasak atas api, dicampur garam dan gula secukup rasa..

Ayam kisar yang dimasak bersama cili boh dan cendawan butang. Tak jumpa cendawan butang kat supermarket jadi guna cendawan yang saya dah lupa namanya..huhu, dipotong kecil-kecil..Nak guna daging kisar pun boleh..Masak sehingga kering..

Doh ni dah kembang. Tapi sebelum tue diuli bersama yis dan sedikit minyak, kemudiannya dibiar dalam bekas sampai kembang doh tersebut..


Tomato puree disapu atas doh dan kemudian sebatian daging dan cendawan tadi diletak atas tomato puree

Tadaaa...




Berapa round entah buat pizza nie, tenghari tu tak masak nasi pun, semua makan pizza..hehe


Adam makan dengan penuh selera..tapi dia tepikan semua inti-inti di atas pizza kemudian baru dia makan....Alhamdulillah sedap lazat enak dimakan bersama keluarga:)

Terima kasih Cik Nur atas cadangan anda untuk buat pizza. Semua memang seronok dan tertunggu-tunggu pizza masak. Alhamdulillah, lain kali bila kami semua dah balik bolehlah Nabilah buat pizza untuk adik-adik yang lain ye. Mak dan Abah boleh gayang kaki:)





Tuesday, February 1, 2011

Bala atau ujian?


Firman Allah dalam Surah Al-Ankabut Ayat 2-3:


"Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?"

Keadaan genting yang menimpa penduduk negeri Mesir di saat dan ketika ini mendapat perhatian seluruh dunia. Suratkabar melaporkan seramai 2 juta lautan manusia berdemo untuk menggesa Hosni Mubarak agar mengundurkan diri daripada pemerintahan negara itu. Perasaan bercampur baur apabila mengenangkan rakyat Malaysia terutamanya pelajar-pelajar Malaysia yang kini dilanda musibah.

Seharusnya musibah itu dilihat sebagai satu ujian dan bukannya bala. Allahu Allah, sedih dan pilu tatkala membaca berita mengenai keadaan di sana. Mereka terpaksa mengikat perut dan mengambil keputusan untuk berpuasa dek kerana kehabisan stok makanan dan mereka juga tidak dapat mengeluarkan wang lantaran bank ditutup. Barangkali mereka juga ketakutan mendengar bunyi tembakan dan bom berdekatan tempat tinggal mereka. Tidak dapat saya bayangkan jika Malaysia mengalami nasib yang sama.

Di saat itu lah saya dan seisi keluarga menikmati makanan yang sedap-sedap, tidak pernah kurang dan meniti hidup tanpa rasa susah. Jika ada pun tidaklah sesusah mereka di Palestin. Nikmat yang cukup ini merupakan suatu ujian buat kita dan semuanya akan dipersoalkan kelak. Telah terbukti bahawa dengan ujian kelaparan, kekurangan harta dan jiwa menjadikan ummat terdahulu lebih beriman kepada Allah Yang Satu.


Dikatakan bahawa ujian berupa harta kekayaan adalah lebih dasyat daripada ujian bencana. Mari kita lihat sabda Rasulullah s.a.w dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Tarmizi :

"Sesungguhnya bagi setiap umat ada ujian dan ujian bagi umatku ialah harta kekayaan."

Bagaimana kita mampu menghadapi ujia-ujian Allah ini dan bukan sekadar omongan kosong. Apabila lalai segera beristighfar. Mereka di sana susah. Kita di sini senang. Lantas apakah sumbangan kita sehingga saat ini. Teruskan berdoa agar Allah sentiasa menguatkan iman mereka yang kini ditimpa musibah. Semuanya adalah ujian, siri-siri tarbiyyah yang telah diatur Ilahi, untuk menguji siapa di antara kita yang beriman dan paling baik amalnya. Allahu Allah.

"Dan sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi itu sebagai perhiasan, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amal perbuatannya."
(Al-Kahfi:7-8).

Mohon semua untuk tetap terus istiqamah mendoakan ummat Islam seluruh dunia, dan bukan hanya pada saat-saat sebegini, malah setiap kali usai solat fardhu. Benar, kita berada di akhir zaman dan pelbagai peristiwa akhir zaman daripada hadis-hadis sahih telah ter"realisasi". Benar, dan tidak lain dan tidak bukan semuanya adalah ujian dari Allah s.w.t. Untuk menguji ummat ini. Semuanya sudah tertulis. Mohon diperkuatkan iman. Ayuh sama-sama, berpesan-pesan dengan kebenaran dan kesabaran. Setiap saat yang berlalu juga adalah ujian!


"Ya Allah kuatkan ummat Islam di seluruh dunia untuk menempuh segala ujian yang mendatang dan tambahkanlah iman di dalam dada kami, jangan jadikan kami leka dengan arus duniawi ini Ya Allah, pimpin kami ke jalan-Mu Ya Allah.Nastargfiruka wa Natubuilaik Ya Allah"


The_Caliph
Rasah Kemayan
16: 22 pm

Khitbah

Hari-hari berlalu yang dilewati seakan sudah bertahun lamanya, namun yang perlu diakui ialah ianya baru beberapa minggu lalu. Iya, hanya beberapa minggu lalu. Berita itu aku sambut dengan hati yang diusahakan untuk berlapang dada. Benar, aku berusaha berlapang dada. Terkadang, terasa nusrah Ilahi begitu hampir saat kita benar-benar berada di tepi tebing, tunggu saat untuk menjunam jatuh ke dalam gaung. Maha Suci Allah yang mengangkat aku, meletakkan aku kembali di jalan tarbiyyah dan terus memimpin untukku melangkah dengan tabah.


Aku hanya seorang Insyirah. Tiada kelebihan yang teristimewa, tidak juga punya apa-apa yang begitu menonjol. Jalan ku juga dua kaki, lihat ku juga menggunakan mata, sama seperti manusia lain yang menumpang di bumi Allah ini. Aku tidak buta, tidak juga tuli mahupun bisu. Aku bisa melihat dengan sepasang mata pinjaman Allah, aku bisa mendengar dengan sepasang telinga pinjaman Allah juga aku bisa bercakap dengan lidahku yang lembut tidak bertulang. Sama seperti manusia lain.


Aku bukan seperti bondanya Syeikh Qadir al-Jailani, aku juga tidak sehebat srikandi Sayyidah Khadijah dalam berbakti, aku bukan sebaik Sayyidah Fatimah yang setia menjadi pengiring ayahanda dalam setiap langkah perjuangan memartabatkan Islam. Aku hanya seorang Insyirah yang sedang mengembara di bumi Tuhan, jalanku kelak juga sama... Negeri Barzakh, insya Allah. Destinasi aku juga sama seperti kalian, Negeri Abadi. Tiada keraguan dalam perkara ini.


Sejak dari hari istimewa tersebut, ramai sahabiah yang memuji wajahku berseri dan mereka yakin benar aku sudah dikhitbah apabila melihat kedua tangan ku memakai cincin di jari manis. Aku hanya tersenyum, tidak mengiyakan dan tidak pula menidakkan. Diam ku bukan membuka pintu-pintu soalan yang maha banyak, tetapi diam ku kerana aku belum mampu memperkenalkan insan itu. Sehingga kini, aku tetap setia dalam penantian.